Cerita Dewasa Sex Bebas Menghancurkanku

birahitki kali ini menhadirkan Cerita Sex dari seorang anak SMA yang bernama Intan. Pada awal dikehidupanya dia mempunyai gaya hidup layaknya anak SMA yang biasa-biasa saja, tapi 6 bulan terakhir ini dia mulai mengenal kehidupan malam. Mulai dari clubing, inexs, sex dan sex bebas. Sampai pada akhirnya Intan pun kehilangan keperawananya oleh seorang Pria bernama Guntur. Mau tahu kelanjutan ceritanya, Langsung aja yuk baca dan simak baik baik cerita dewasa ini.


Saya akan menceritakan tentang pengalaman cerita sex, tapi sebelumnya saya akan memperkenalkan nama saya dahulu. Okey, nama saya Intan, usia 16 tahun, dan statusku masih duduk dibangku SMA. Saya adalah salah satu siswi dari salah satu SMA N Favorit di kota “ S “ . Kurang lebih sudah 1tahun ini pola bergaulku mulai kacau dan liar. Dunia malam, clubing , inexs dan sex bebas menjadi pola pergaulanku. Sampai pada akhirnya saya-pun terjerat dalam hidup yang tidak terarah. Sebenarnya saya sadar, kalau pola bergaul seperti ini tidak akan memberi kehidupan yang baik dimasa depan. Saya berfikir saya hampir kehilangan jati diri saya sendiri.
Jujur saja , saya sangat menyesali dengan kondisi saya yang seperti ini. Keterjerumusanku dalam pergaulan bebas ini telah membawa saya dalam kehidupan yang suram. Sebenarnya saya ingin sekali bisa mendapatkan kembali kehidupan saya yang seperti dulu, dimana dikehidupan saya dulu yamg belum mengenal pergaulan bebas. Sungguh begitu indah rasanya. Kedua orang tua saya sangat lah sayang kepada saya. Dika pacarku yang setia, dia selalu datang untuk menghibur dan menemaniku setiap hari.
Dalam kehidupan kelamku ini, aku teringat pada momen dikehidupan saya yang dulu. Dulu teman-teman sekolahku sering datang ke rumah untuk mengerjakan tugas atau hanya sekedar berkumpul saja. Saya dulunya adalah tipe wanita yang pemalu, sedangkan pacar saya bersifat terbalik dari saya, dia biang kerok di sekolah dan tidak tahu malu. Dulu saya berprestasi dalam pelajaran tapi kurang menguasai bidang olah raga. Sedangkan Dika berprestasi dalam bidang olah raga namun malas belajar. Kalau ucap teman-teman sekolah saya sih kami pasangan serasi, Entah apanya yang serasi.
Saya teringat saat-saat terakhir dia bersama dia ketika dia akan berangkat sekolah ke Swiss. Ada setitik firasat bahwa itu adalah saat terakhir saya bersamanya. Saya menangis tiada henti di bandara seperti orang bodoh. Tidak ada ucap yang terucap, hanya sedu sedan lirih terdengar dari mulutku. Orang tuanya sampai sungkan pada orang tua saya dan berusaha menghiburku dengan mengatakan bahwa Dika akan sering pulang ke Indonesia untuk menengokku. Orang tua saya pun tak kalah dan berjanji pada saya akan menyekolahkan saya ke Amerika selepas SMA.
Ucap orang cinta akan lebih terasa saat terpisahkan oleh jarak. Saya tidak sabar untuk membuka e-mail setiap malam. Telepon internasional seminggu sekali menjadi pelepas dahaga bila saya rindu suaranya. Setiap malam menjelang tidur, saya melihat-lihat foto kami berdua. Dan tak lupa saya mendoakan dia. Kini Dika tidak akan mau memandangku lagi. Laporan dari teman-temannya yang melihat saya berkeliaran di diskotik-diskotik dengan lelaki lain membuatnya murka dan tidak mempercayai saya. Dia mengadili saya yang hanya bisa menangis dan berjanji akan menghentikan perbuatanku.
Tapi apa daya, di belahan dunia lain, Dika tidak akan bisa melihat keseriusanku. Dia meminta untuk mengakhiri hubungannya denganku meski saya menangis meraung-raung di telepon. Saya tak berdaya. Dia begitu kerasnya tidak mengampuni kesalahanku. Yasudahlah memang ini semua memang salahku. Tapi apakah saya tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan, Apakah setiap orang tidak pernah khilaf ?, dan apakah sama sekali tidak ada ucap maaf untukku. Dia dulu mengatakan apa pun yang terjadi akan selalu mencintaiku. Akan selalu menjagsaya. Semakin hari cintanya pada saya akan semakin besar. Ternyata, bohong! Itu semua hanya bohong belaka.
Saat ini saya jadi pacarku bodoh, sering melamun dan mudah stres. Bukan hanya hubunganku dengan Dika yang hancur. Hubunganku dengan ayah ibuku juga memburuk. Mereka sudah menyerah menghadapi saya yang hampir setiap hari pulang pagi. Mereka bahkan mengancam akan mengusir saya bila terus menerus seperti ini. Saya jadi sering membolos sekolah. Prestasiku di sekolah makin hari makin memburuk. Saya telah kehilangan minat untuk belajar dan meraih ranking tinggi di sekolah.
Hubungan sosial dengan teman sekolahku juga semakin buruk. Saya malas bergaul dengan mereka. Saya takut mereka mengetahui siapa saya sebenarnya. Saya takut mereka menyebarkan tingkah lakuku sebenarnya. Saya takut. Saya jadi paranoid! Saya jadi mudah curiga dengan semua orang. Saya jadi sulit tidur dan melamun yang tidak-tidak. Saya jadi sering mimpi buruk dan makin sulit membedakan mana mimpi dan kenyataan. Lama-lama saya bisa gila! Saya ingin berhenti menggunakan narkoba dan sesegera mungkin meninggalkan dunia gemerlap yang selama setahun ini kugeluti. Tapi saya sulit meninggalkannya. Saya terperangkap di dalamnya.
Inexs! Semua ini gara-gara pil setan itu! Badanku semakin kurus. Matsaya cekung dihiasi garis hitam dibawahnya. Saya tidak mengenali wajahku sendiri di hadapan cermin. Bahkan Mamsaya sudah mengecap saya sebagai wanita nakal. Saya memang telah jadi wanita nakal. Saya telah melepaskan keperawananku pada seorang pria yang bukan suamiku. Saya malu pada diriku dan pada orang tua saya. Diriku bukan Intan yang dulu. Intan yang selalu meraih prestasi di sekolah. Intan yang selalu membanggakan orang tua. Intan yang rajin ke gereja. Intan yang lugu dan pemalu. Intan yang selalu jujur dan berterus terang.
Malam itu entah malam keberapa saya ke diskotik dengan Guntur. Setelah clubing gila-gilaan bersama teman-teman, saya pulang bersama Guntur. Sebenarnya saya malas pulang karena masih dalam keadaan on berat. Gara-gara Bandar gede dari Jakarta datang, semua jadi kebanyakan inexs. Badanku terus bergetar tiada henti, dan rahangku bergerak-gerak ke kiri dan kekanan. Dengan eratnya saya peluk lengan Guntur seakan-akan takut kehilangan dirinya.
Tidak seperti biasanya Guntur mengajakku putar-putar keliling kota. Mungkin dia kasihan melihat saya masih on berat dan tidak tega membiarkan saya sendirian di rumah. Saya sih senang-senang saja. Kuputar lagu-lagu house music agak kencang, meski saya tahu akibatnya bisa fatal. Tak sampai lima menit, lagu house music dan hembusan hawa AC yang dingin membuat saya on lagi! Saya menggerak-gerakkan badan, kepala dan tanganku di bangku sebelah. Rasanya asyik sekali clubing dalam mobil yang melaju membelah kota! Guntur tertawa melihat saya memutar-mutar kepala seperti angin puyuh.
“ Untung saja kaca film mobilku gelap. Jadi saya nggak perlu takut orang-orang melihat tingkahmu! ” ujarnya.
Hahaha. rasanya saat itu saya tidak peduli mau dilihat orang, polisi, hansip atau siapa pun juga, saya tidak akan peduli! Lagipula ini masih jam 3 pagi. Setelah setengah jam kami putar-putar kota, akhirnya kami sampai di daerah sekitar rumah Guntur. Guntur menyarankan agar saya meneruskan tripingku di rumahnya. Sebab terlalu riskan bila clubing di jalanan seperti itu. Kalau sedang sial bisa ketangkap polisi. Saya yang sudah tidak bisa berpikir lagi Cuma mengiyakan semua omongannya.
Sampai di rumahnya, saya langsung diantar ke kamarnya. Sambil meletakkan kunci mobil, Guntur menyalakan ac dan memutar lagu house music untukku. Wah dia benar-benar ingin membuat saya on terus sampai pagi! Ok, Saya layani! Kurebut remote ac dari tangannya dan ku setel dengan temperatur paling rendah. Guntur yang sudah drop, begitu mencium bau ranjang langsung hendak merebahkan badannya yang besar itu ke tempat tidur. Tentu saja saya tidak ingin tripping sendiri! Kutarik tangannya dan kuajak dia goyang lagi.
Guntur mengerang dan tetap menutup wajahnya dengan bantal. Tingkahnya dibuat manja seperti anak kecil. Tidak habis pikir saya segera mencari koleksi minumannya di mejanya. Kusambar sebotol Whisky dan kupaksa dia minum. Mulanya Guntur menolak dengan alasan besok harus kerja. Namun saya memaksa terus hingga dia tak berkutik. Beberapa teguk Martell membuahkan hasil juga. Guntur bangun dan duduk didepanku. Saya segera memeluknya dari belakang dan menggodanya dengan manja.
“ Kalau kamu mau nemenin saya clubing. hari ini saya jadi milikmu. ”
“ Milikku sepenuhnya.? Ehm. I love it! ” Balas Guntur nakal.
“ Ya.ehm. jadi milikmu. ” bisikkuku di dekat telinganya.
Saya memeluknya dari belakang dan menciumi telinganya sampai dia kegelian. Saya terus menggodanya dengan menciumi leher dan bahunya. Tiba-tiba dia membalikkan badan dan menyergapku! Saya kaget juga dan berteriak kecil. Guntur mendekapku erat-erat dan balas menciumi wajah, leher dan telingsaya. Saya menjerit-jerit kegelian oleh tingkahnya.
Lama-lama ciuman Guntur semakin turun ke bawah. Dia melorotkan tali tank-topku dan menciumi buah dadsaya dengan ganas sambil mendengus-dengus. Saya bergetar menahan geli dan rangsangan yang hebat. Otot-otot badan dan kakiku terasa kakusemua. Tidak puas menciumi dadsaya, Guntur meloloskan bra yang menutupi dadsaya sehingga kedua buah dadsaya tersembul keluar.
“ So wow… Saya paling suka payudaramu! ” desisnya.
Saya paling suka kalau keindahan tubuhku dipuji. Dia mengucapkan ucap-ucap itu dengan mata berbinar-binar sehingga membuatku tersanjung. Tentu saja saya langsung menutupi dadsaya dengan kedua tanganku seakan-akan melarangnya untuk melihat.Sedetik kemudian dia membuka kedua tanganku dan membungkuk kearah dadsaya lalu mendekatkan mulutnya ke puting kananku. Dengusan napasnya yang mengenai putingku sudah bisa membuatku menggelinjang. Pelan-pelan lidahnya menjilat putingku sekilas, lalu berhenti dan memandang reaksiku.
Saya memejamkan mata dan mendengus. Perasaanku melambung sampai ke awang-awang! Ketika kubuka matsaya, dia memandangku sambil tersenyum nakal. Saya memukulnya. Kemudian dia menjilat puting kiriku sekilas. Saya kembali menggelinjang-gelinjang. Saya merasa detik-detik penantian apa yang akan dilsayakan Guntur pada putingku membuat saya makin penasaran. Saya mengerang-erang ingin agar Guntur meneruskan aksinya. Saya sudah sangat terangsang hingga memohon-mohon padanya agar memuaskan saya. Guntur tersenyum manis sekali lalu mulai memasukan putingku ke mulutnya.
Putingku dipermainkan dengan mulut dan lidahnya yang hangat. Saya bergetar dan menggelinjang menjadi-jadi. Kepiawaian Guntur merangsang dan memuaskan saya sudah terbukti. Rangsangan yang hebat melupakan segala janji yang pernah kubuat. Guntur sangat terangsang rupanya. Saya merasa ada yang mengganjal di bagian bawah perutku dan menyodok-nyodok kemaluanku. Saya membuka kedua kakiku lebar-lebar dan merubah posisi pinggulku agar kemaluanku bergesekan dengan Kejantanannya.
Tiap kali Kejantanannya menggesek klitorisku saya mengerang dan merenggut apa saja yang bisa kurenggut termasuk rambutnya. Napas kita yang mendengus-dengus bersahut-sahutan bersaing dengan lagu house music yang memenuhi ruangan. Guntur meneruskan aksinya sambil melepas pakaianku satu persatu hingga saya telanjang bulat. Saya menatap wajahnya dengan perasaan tak karuan. Lalu dia membuka pakaiannya sendiri dan mulai menyerangku dengan ganas. Saya diciumi mulai mulut turun ke leher lalu ke buah dadsaya. Kemudian turun lagi melewati pusar dan bulu kemaluanku. Dia berhenti sesaat sambil melihat saya yang sudah terangsang berat.
“ Guntur. cium anuku please.
” pintsaya terbata-bata.
“ Hehehe. ” Desisnya pelan.
Lalu tanpa menunggu perintah kedua kalinya, dia mulai merubah posisinya agar mulutnya pas di kemaluanku. Kemudian kakiku dibuka lebar-lebar ke atas sehingga kemaluanku menyembul di antara pahsaya. Saya merasa hawa dingin menerpa bagian dalam kemaluanku yang merekah. Saya memejamkan mata berdebar-debar menunggu Guntur memulai aksinya. Guntur menciumi sisi luar kemaluanku dengan perlahan. Saya mengerang tertahan dan mengerutkan dahi. Rasanya geli sekali! Ciumannya bergerak ke tengah dan berhenti di klitorisku.
Klitorisku diciuminya lama sekali seperti kalau dia menciumi bibirku. Dia mengulum dan kadang menyedot kemaluanku dengan kuat. Saya mendesah-desah keras sekali. Tak tergambarkan rasanya. Lalu ketika lidahnya ikut bermain, saya tak kuat menahan lebih lama lagi. Dibukanya bibir kemaluanku dengan jarinya, lalu lidahnya dimasukan diantaranya. Lidahnya memilin-milin klitorisku dan kadang masuk ke kemaluanku dalam sekali.
Erangan panjang menandakan kenikmatan yang tiada taranya. Saya malu sekali ketika klimaks dihadapannya. Ritme ciumannya pada kemaluanku perlahan-lahan mengendur seiring dengan tekanan yang kurasakan. Guntur memang hebat. Dia sudah berpengalaman memuaskan pacarku. Dia bisa tahu timing yang tepat kapan harus cepat dan kapan harus pelan. Saya jadi curiga apa dia berprofesi sebagai gigolo yang biasa memuaskan Tante-Tante kesepian. Hehehe.
“ Lho kok cepat? Udah terangsang dari tadi ya? ” tanyanya sambil senyum-senyum mesum.
Mukaku memerah ketika saya tak bisa menjawab pertanyaannya. Saya memukulnya dengan bantal sambil menggodanya.
“ Kamu gigolo ya? Kok hebat banget? ”
“ Eh, gigolo! Kurang ajar! Gua ini memang Player dikota ini yah! Belum pernah ada pacarku yang tidak puas kalau main denganku! ” ucapnya.
“ Teman-temanku sampai menjuluki saya ‘Sex Machine’! ” lanjutnya.
“ Ngibul! kamu pasti gigolo! ” godsaya sambil memukulnya dengan bantal lagi. Kami perang mulut selama beberapa saat.
Kemudian Guntur mengakhirinya dengan berucap,
“ Enak aja menghina saya! Sebagai balasannya, nih. ” Guntur melompat kearahku dan memasukkan kepalanya diantara kakiku.
Dia langsung melumat kemaluanku dengan mulutnya lebih ganas lagi padahal kemaluanku masih berdenyut-denyut geli. Saya menjerit-jerit karenanya. Gelinya luar biasa! Entah apakah kemaluanku sudah sangat basah atau tidak, saya mendengar bunyi berkecipak di kemaluanku. Rasa geli yang menerpa segera berubah menjadi nikmat. Saya terhanyut lagi dalam permainan lidahnya.
Saya klimaks untuk yang kedua kalinya. Badanku rasanya lemas semua. Malam itu saya mudah sekali klimaks. Entah apa mungkin itu karena pengaruh inexs atau memang saya sudah dalam keadaan puncak, saya tidak tahu. Kami break sebentar. Guntur tidur terlentang. Kulihat Kejantanannya berdiri tegak bagai tugu monas. Kepalanya yang merah mengkilat karena cairan maninya meleleh keluar. Saya duduk di dipangkuannya dan memegang Kejantanannya yang keras.
“ Lho, sejak kapan celana dalammu lepas? Saya kok nggak tahu? ” tanysaya.
“ Hehehe. kamu merem terus dari tadi sampe nggak tahu kalo burungku udah menunggu-nunggu ditembakkan ke sasaran! ” candanya.
Saya kasihan padanya. Kuelus-elus Kejantanannya sambil menggodanya. Lalu saya naik ke atas tubuhnya dan duduk tepat diatas Kejantanannya. Guntur tampak terangsang melihat tindakanku. Kugoyang-goyangkan pinggulku maju mundur diatas Kejantanannya sambil kuelus-elus dadanya. Guntur memejamkan matanya sambil merasakan sentuhan-sentuhan kemaluanku di Kejantanannya.
Saya juga merasa geli-geli nikmat saat Kejantanannya yang keras dan licin menggeser klitorisku.
Lama-lama Guntur tidak kuat menahan rangsangan. Dia bangkit dan memeluk tubuhku. Kami berciuman. Tanpa mempedulikan bau cairan kemaluanku di mulutnya, saya terus menggoyangkan pinggulku maju mundur. Kemaluanku yang basah semakin memudahkan Kejantanan Guntur bergesekan diantar bibir kemaluanku. Gerakan kami makin lama makin liar, sampai akhirnya pertahananku runtuh.
Kejantanan Guntur mengoyak keperawananku! Kepala Kejantanannya selip dan masuk ke kemaluanku. Saya menjerit kaget dan gerakanku terhenti. Untuk sesaat saya merasa sakit karena ada benda sebesar itu masuk ke kemaluanku. Guntur juga berhenti dan hendak mencabut Kejantanannya dari kemaluanku. Namun saya mencegahnya. Saya benar-benar terhanyut dalam fantasiku sendiri akan kenikmatan persetubuhan. Kupeluknya erat-erat tubuhnya. Disamping rasa sakit, saya merasakan suatu kenikmatan yang lain.
Saya ingin merasakan lebih lama lagi. Secara tak sadar saya merendahkan pinggulku perlahan-lahan sampai Kejantanan Guntur memenuhi liang kemaluanku. Rasanya sungguh luar biasa! Saya memeluk Guntur sekuat tenaga dengan napas terputus-putus. Kucengkeram punggungnya dengan kuku jariku tanpa peduli dia kesakitan atau tidak. Tak terlukiskan perasaanku saat itu. Saya mengerang-erang. Rasanya seluruh sarafku terputus dan terpusat di kemaluanku saja.
Guntur membiarkanku sesaat menikmati moment ini. Dia pasti juga sedang menikmati koyaknya selaput darsaya. Perlahan-lahan Guntur mulai menggoyangkan pinggulnya. Kejantanannya bergerak-gerak perlahan dalam kemaluanku. Saya mendesah mengaduh-aduh menahan nikmat dan geli. Kemaluanku masih sangat sensitif sampai sampai saya tidak tahan ketika Kejantanannya digerak-gerakkan. Saya menatap sayu pada Guntur.
“ Kenapa saya nggak tahu kalau bersetubuh seenak ini? Kalau tahu, saya sudah dari dulu mau Bercinta sama kamu! ” katsaya.
Mendengar perucapanku, sesaat Guntur hanya memandangku tanpa ekspresi. Saya tidak dapat menebak apa yang ada dipikirannya. Lalu dengan pandangan yang menyejukkan, dia mencium keningku dan pipiku. Saya menjadi tenang dan damai. Guntur, saya sayang padamu, saya sayang padamu, saya sayang padamu. Tak ada lagi Dika dalam kamusku. Saya hanya sayang padamu katsaya dalam hati. Sex jauh lebih memabukkan daripada Inex! Saya tak bisa berpikir jernih! Yang ada dipikiranku hanya terus dan terus, tanpa akhir.
Guntur mulai menggerakkan Kejantanannya keluar masuk kemaluanku. Mulanya perlahan, lama-lama semakin cepat. Rasanya mau mati saking nikmatnya. Saya tak bisa berucap apa-apa. Hanya erangan dan desahan yang keluar dari mulutku. Dorongan Kejantanannya yang menghujam keluar masuk ke dalam kemaluanku membuatku tak berdaya.
Malam itu saya klimaks empat kali. Guntur menumpahkan spermanya di perutku dan terkapar disebelahku. Saya juga terkapar kelelahan. Saking lelahnya saya sampai tidak kuat untuk bergerak mengambil tissue untuk membersihkan spermanya yang tumpah di perutku. Ternyata klimaks saat bersetubuh jauh lebih nikmat daripada dengan oral seks. Sungguh berbeda.
Setelah terkapar beberapa saat, Guntur membopongku ke kamar mandi dan memandikan saya. Saya terus menerus memandang wajahnya dan mencari-cari sinar apa yang terpancar di wajahnya. Apakah dia benar mencintaiku atau saya hanya salah satu perempuan koleksinya? Saya terus memeluknya saat dia membasuh tubuhku dengan air hangat dan membersihkan kemaluanku. Kemudian setelah membersihkan diri, kami tidur kelelahan.
Besoknya saat saya bangun, Guntur sudah tidak ada di sebelahku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul sembilan. Detik berikutnya saya baru sadar kalau tidur telanjang bulat dan hanya ditutupi selimut. Perlahan-lahan memoriku memutar balik kejadian tadi malam. Agak susah mengingat kejadian semalam setelah pakai inexs dan minum minuman beralkohol.
Setelah ingat semua, dengan lunglai saya bangkit dan melihat kemaluanku. Kuraba dan kupegang kemaluanku. Rasa nikmat dan geli semalam masih terbayang di pikiranku. Pikiran jelek mulai menggangguku. Saya sudah tidak perawan! Saya sudah kehilangan keperawananku di usia ke 16 dengan pacarku yang bukan pacarku maupun suamiku! Edan! Saya lepas kendali!
Ucap-ucap Ling mulai teringat kembali. Saat dia kehilangan keperawanannya pertama kali, dia menangis menjadi-jadi semalaman. Namun sekarang dia sudah biasa dan malah sering Bercinta. Saya teringat saat Ling mengenalkan Guntur pada saya, dia memperingatkan Guntur agar jangan macam-macam pada saya. Berbagai macam kejadian dari awal saya kenal kehidupan malam sampai saat ini lalu lalang dalam pikiranku seakan-akan menyindirku.
Saya ingin menangis menyesali semuanya! Namun sudah terlambat! Apalagi saat saya melihat setitik noda hitam pada sprei. Saya langsung menangis menjadi-jadi. Saya merasa berdosa! Bayangan wajah Papa Mamsaya berkelebat berganti-ganti dalam benakku. Saya merasa berdosa pada Papsaya, pada Mamsaya, pada kakakku, pada seluruh keluarga saya.
Saya ke kamar mandi untuk membersihkan diriku, saya merasa kotor dan hina. Saya bukan Intan yang dulu lagi, Masa depanku hancur, Siapa yang mau sama saya. Pacarku mana mungkin mau menerima wanita seperti saya! aku yang sudah tidak utuh lagi! aku murahan! Saya benci diriku sendiri! Saya benci semua orang! Saya menangis lama sekali di kamar mandi. Kutumpahkan semua perasaanku dalam air mata yang segera tersapu guyuran air hangat. Hingga akhirnya saya tergeletak lemas di lantai kamar mandi.
Setelah bosan menangis, saya segera beranjak dari kamar mandi dan mengenakan pakaian. Kuambil ponselku dan kukirim SMS pada Ling. Saya minta dia menjemputku di rumah Guntur. Ling menyanggupi dan berjanji akan menjemput saya sepulang sekolah pukul 13.00
Pukul sebelas Guntur pulang ke rumah. Tiba-tiba perasanku jadi campur aduk saat kudengar suara mobil Guntur memasuki rumah. Ada perasaan jengkel yang menggebu-gebu padanya.
“ Kok berani-beraninya orang segede dia menjerumuskan anak kecil! Dasar hidung belang! ” pikirku jengkel.
Saya duduk di ranjang menghadap pintu sambil menunggu dia masuk. Kusiapkan wajah sesuram mungkin agar dia tahu kalau saya marah padanya. Saya sudah mempersiapkan diri untuk mendiamkannya selamanya. Pokoknya dia harus tahu kalau saya marah.Guntur yang sepuluh tahun lebih dewasa tahu bagaimana harus bertindak menghadapi saya. Dia diam saja saat saya mendiamkannya. Lalu mulai mengajakku makan. Saya menolak. Dia terus mengajakku bicara d an bercerita kalau dia bangun kesiangan sehingga terlambat kerja. Dia pura-pura tidak tahu saya marah padanya. Sejurus kemudian dia mulai memelukku dan mengatakan kalau dia segera pulang karena khawatir saya belum makan atau kesepian di rumah.
Lama-lama saya kasihan juga padanya. Dia baik pada saya. Sebenarnya yang salah saya. Saya yang memaksanya melsayakan itu. Padahal kemarin dia sudah mau tidur, saya malah merangsangnya habis-habisan. Yah, saya yang salah. Seperti membangkitkan macan tidur. Saya pun mulai melunak. Saya mulai menjawab pertanyaannya sepatah-sepatah sampai akhirnya suasana mulai cair. Mengerti umpannya mengena, Guntur mulai merayuku dan menggodsaya. Saya tidak tahan digoda dan mulai membalas godaannya.
“ Guntur, kamu harus bertanggung jawab! Kamu harus kawin sama saya! ” serangku.
“ Jangan kuatir sayang! Saya ini dari dulu juga suka sama kamu. Cuma saya takut kamu yang nggak mau sama saya karena saya terlalu tua. Hahahaha. ” balasnya.
Saya tidak peduli pikirku. Toh saya juga merasa cocok dengan Guntur. Dia begitu dewasa. Dia bisa momong saya. Masalahnya, dia sepuluh tahun lebih tua dari saya. Apa orang tua saya setuju saya menikah dengannya? Pikiranku sudah jauh lebih baik sekarang. Guntur memelukku erat-erat dan menghiburku. Saya jadi makin sayang padanya.
Akibat kejadian malam itu, hampir tiap hari saya Bercinta dengannya. Kami melsayakan di rumahnya, di hotel, di kamar mandi, di mobil dan dimanapun kami mau! Berbagai posisi kami lsayakan. Saya benar-benar ketagihan bersetubuh! Bahkan kami pernah menginap seharian di hotel dan tidak keluar kamar sama sekali. Saat itu saya sampai klimaks sebelas kali waktu Bercinta dengannya! Benar-benar liar dan tak terkontrol.
Acara tripping selalu dilanjutkan dengan Bercinta. Kesukaan kami adalah clubing sambil telanjang bulat berdua di kamar Guntur sambil bercumbu. Asyik sekali rasanya! Saat pengaruh inexs menurun, kami bersetubuh atau melsayakan oral seks untuk membuat on lagi. Setelah benar-benar habis, kami lanjutkan dengan minum minuman keras. Edan.Dua bulan terakhir ini saya jarang kontak dengan Guntur. Guntur sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan saya sibuk diadili oleh keluarga saya.
Mereka marah besar pada saya dan mengawasiku dengan ketat. Ponselku disita sementara. Telepon untukku disortir sama orang tua saya. Kemana-mana selalu diantar sopir ayahku. Pokoknya saya jadi tahanan rumah. Entah siapa yang salah. Saya tak perlu menyalahkan siapa saja selain diriku sendiri. Saya sendiri pun menyesal menyadari kondisiku sekarang. Orang luar pada bingung melihat tingkahku. Saya hidup di dalam keluarga yang harmonis. Orang tua saya sayang dan perhatian pada saya. Tapi kok bisa saya terjerat jadi seperti ini? Hahaha. memang bodoh apa yang kulsayakan. Penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi. Entah sampai kapan saya bisa berhenti dari dunia gila ini? Saya pun sudah mulai bosan.
Bagaimana para Pembaca Serukan para maniak seks, jangan lupa ya!!! Selalu ikuti cerita-cerita dewasa di birahitki
Cerita Dewasa Sex Bebas Menghancurkanku Cerita Dewasa Sex Bebas Menghancurkanku Reviewed by Loly Poly on 6:02 AM Rating: 5

No comments